Jumat, 06 Mei 2011


PERENCANAAN - OPERASI BISNIS

DAN

PROPOSAL KEGIATAN AGRIBISNIS

 


I.     PERENCANAAN KEGIATAN AGRI-BISNIS


1.1. Pengertian dan Arti Pentingnya

“Perencanaan” dalam arti yang sederhana sering diberi makna dengan ungkapan seperti “berpikir sebelum bertindak atau berhitung sebelum melangkah”.

Peranan perencanaan ini sangat penting dalam kaitannya dengan upaya pencapaian suatu tujuan. Tanpa ada perencanaan atau perencanaan yang dibuat kurang baik, maka kemungkinan besar tujuan tersebut tidak tercapai atau tercapai tetapi dengan biaya yang sangat mahal.

 

1.2. Perencanaan Bisnis


Dalam dunia bisnis perencanaan tidak boleh diabaikan, apalagi untuk pencapaian tujuan dalam dunia bisnis diperlukan pengorbanan yang sangat besar. Apakah itu modal, tenaga, pikiran ataupun pengorbanan-pengorbanan yang lain. Sehingga dalam perencanaan bisnis hendaknya dilakukan secara cermat, akurat serta dapat meyakinkan.

 

1.3. Pemilihan Bisnis


Dalam perencanaan bisnis maka pertama-tama yang harus dipikirkan adalah memilih bisnis yang tepat. Sebab bila pilihan terhadap bisnis yang akan diterjuni salah maka dengan sendirinya akan mengganggu jalannya perusahaan. Bahkan dapat menyebabkan kegagalan perusahaan yang bersangkutan.

 

1.4. Studi Kelayakan.


Agar tidak sampai salah pilih dalam bisnis yang akan diterjuni maka hendaknya diadakan study kelayakan. Bila berdasarkan penelitian atau setidaknya pengamatan kita, suatu bisnis dianggap kurang layak, maka hendaknya bisnis tersebut tidak diterjuni.


1.5. Pertimbangan Kelayakan Bisnis.

Untuk mengetahui layak tidaknya suatu binis perlu mempertimbangkan beberapa faktor  antara lain faktor pemasaran, tingkat persaingan, bahan baku,  sumberdaya manusia dan sebagainya.


1.6. Kelayakan Bisnis.

Apabila suatu bisnis dianggap layak maka berarti bisnis tersebut dapat dipilih untuk diterjuni. Meskipun bisnis tersebut layak secara umum, bagi pemula bisnis hendaknya ditambah dengan pertimbangan-pertimbangan khusus .


1.7. Pertimbangan Khusus.

Pertimbangan khusus tersebut antara lain hendaknya bisnis itu dapat dimulai secara sederhana dengan resiko terkendali. Disamping itu akan lebih baik lagi bila bisnis tersebut dekat dengan hobby atau kesenangan serta keterampilan yang telah dimiliki. Tambahan pertimbangan ini sangat penting terutama bagi pemula bisnis. Dengan pertimbangan tersebut kita kemungkinan dapat mempunyai nilai plus dibanding pesaing. Setidaknya kita mempunyai nilai yang setara dengan pesaing yang lain. Hal ini sangat menunjang keberhasilan dalam bisnis.


1.8. Mulai Secara Sederhana.

Memulai secara sederhana merupakan filosofi perencanaan yang tepat, meskipun kita memungkinkan memulai bisnis langsung secara besar-besaran. Hal ini adalah suatu perencanaan yang tepat dari sisi manajemen. Apalagi bila yang merintis bisnis tersebut adalah pemula bisnis.


1.9. Mengapa Dimulai Secara Sederhana.

Dengan memulai secara sederhana kita dapat mengembangkan bisnis tersebut secara bertahap tapi mantap. Sebaliknya bila sampai mengalami kegagalan akan lebih mudah bangkit kembali. Baik itu dari sisi permodalan maupun dari sisi mental.


1.10. Menuju Keunggulan Produk .

Kiat memilih bisnis yang dekat dengan hobby dan kesenangan dapat mendukung ketekunan dan keseriusan dalam penanganan bisnis tersebut. Dengan demikian diharapkan dapat diciptakan produk, pelayanan yang lebih baik dari pesaing-pesaing, setidak-tidaknya setara dengan pesaing-pesaing yang sudah ada.



1.11. Memulai Kegiatan Bisnis.

Apabila telah mampu ditetapkan bisnis yang tepat sesuai dengan diri kita, maka hendaknya direncanakan bagaimana merintis bisnis tersebut. Kita tetapkan skala bisnis yang tepat, yang akan kita terjuni yang cukup sederhana dan sesuai dengan modal yang dapat disediakan. Dalam memulai bisnis tersebut kita harus merencanakan segala sesuatu, misalnya lokasi untuk bisnis, tenaga kerja, kualitas produk/jasa yang kita hasilkan, cara memasarkannya dan sebagainya.


1.12. Permodalan.

Masalah permodalan dalam perintisan bisnis sebaiknya dilakukan dengan modal sendiri atau bila terpaksa berpartner dengan relasi. Hal ini perlu diperhatikan sebab bila perintisan bisnis tersebut dilakukan dengan bunga kredit, maka akan lebih menyulitkan. Apalagi kalau kredit tersebut berbunga tinggi.

1.13. Keberanian Terjun Berbisnis.

Hambatan pertama dalam perintisan bisnis adalah apabila perintisan bisnis tersebut tidak kunjung terwujud tetapi di angan - angan saja.

Apabila perintisan tersebut tidak juga terwujud dalam waktu yang lama maka keberanian untuk terjun berbisnis harus ditingkatkan. Untuk mendukung terwujudnya perintisan bisnis tersebut harus segera dimulai, jangan ditunda-tunda. Meskipun itu sekedar perletakan batu pertama. Apabila kita ingin merintis usaha peternakan ayam tetapi tidak  juga segera terwujud, maka paksakan pada diri kita untuk membuat beberapa kandang ayam dan beberapa ekor ayam. Hal ini mendorong pengembangan sekala bisnis lebih lanjut.

1.14. Pemasaran Prioritas Utama.

Apabila bisnis telah terwujud segeralah usahakan untuk mem- buat suatu perencanaan bagaimana memasarkan produk/jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan. lni memerlukan skala prioritas utama yang harus diperhatikan. Sebab bila pemasaran gagal maka gagallah perintisan bisnis tersebut. Ini semua diperlukan agar dapat lebih konsentrasi.

1.15. Dukungan Lain Terhadap Pemasaran.

Apabila pemasaran mulai kelihatan hasilnya, perhatikan yang lain terutama hal-hal yang dapat menunjang pemasaran. Dengan demikian diharapkan pemasaran akan berkembang dan mantap. Berarti untuk memantapkan dan mengembangkan pemasaran perlu dukungan semua pihak.

1.16. Titik Balik.

Jangan lupa kita harus membuat suatu perhitungan tingkat produksi/penjualan, dimana perusahaan mencapai titik impas. Ini penting sebab sebelum mencapai titik impas (BEP) , perusahaan akan selalu dalam keadaan rugi. Sebab titik impas adalah tingkat penjualan/produksi dimana perusahaan tidak untung dan tidak rugi .

1.17. Mencapai Titik Balik Secepatnya.

Perencanaan harus dilakukan agar dapat memacu pemasaran, sehingga pencapaian titik impas dapat segera terwujud. Perlu diketahui semakin lama titik impas tercapai, kerugian akan semakin membengkak sehingga perusahaan tidak dapat bertahan lagi. Dengan kata lain sebelum mencapai titik impas, keadaan perusahaan belum aman.

1.18. Mendorong Akselerasi Pemasaran.

Untuk dapat memacu pemasaran dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan meningkatkan keaktifan dalam penjualan, mengadakan promosi penjualan serta kegiatan-kegiatan yang lain untuk memperkenalkan produk / jasa. Bila titik impas dapat tercapai, barulah keadaan lebih tenang karena kerugian tidak lagi terjadi. Sebab titik impas adalah tingkat produksi atau penjualan dimana perusahaan tidak untung dan tidak rugi. Untuk memacu pemasaran perlu skala prioritas dan konsentrasi. .

1.19. Pemasaran Di Tingkat Aman.

Seyogyanya kita tidak berhenti dalam memacu pemasaran, meskipun titik impas telah tercapai. Sebab biasanya apabila penjualan sedikit menurun, kerugian kembali terjadi. Disamping itu perlu dicatat meskipun tidak lagi mengandung kerugian tetapi telah menumpuk kerugian dengan proses waktu yang ada. Oleh karena itu paculah terus pemasaran sehingga pada tingkat yang cukup aman. Pengertian aman di sini dalam arti apabila penjualan menurun sedikit maka unit usaha akan tetap bertahan di atas titik impas.

Pemantapan Pemasaran


Apabila telah berada
di atas titik impas yang paling
aman, pemasaran harus dimantapkan. Kita tidak hanya sekedar menjual barang/jasa, tetapi harus dapat mengikat mereka untuk menjadi pelanggan. Oleh karena itu harus diusahakan tidak hanya rnenjual barang/jasa tetapi harus dapat menjual kepercayaan.





II.                  OPERASIONALISASI USAHA BISNIS

2.1.       Pengertian dan Arti Pentingnya Operasional Bisnis

Apabila bisnis sudah berdiri maka proses lebih lanjut adalah melaksanakan Operasional Bisnis. Dengan tujuan utama untuk lebih memantapkan dan mengembangkan bisnis tersebut lebih lanjut. Dengan semakin mantapnya dan berkembangnya bisnis tersebut maka diharapkan bisnis tersebut tidak hanya bertahan untuk beberapa bulan atau beberapa tahun semata. Tetapi mampu bertahan bertahun-tahun bahkan bila mungkin dari generasi ke generasi selanjutnya.

Dengan demikian operasional bisnis dapat diartikan secara sederhana sebagai tindakan nyata yang seharusnya dilakukan.  Untuk operasional bisnis ini memang perlu sikap proaktif, dan inovatif. Tanpa ketiga sikap tersebut sulit kita melaksanakan operasional yang berhasil. Jadi kalau kita ingin membedakan antara perencanaan bisnis dan operasional bisnis, maka perencanaan bisnis adalah lebih ke arah berpikir sebelum bertindak, sedang operasional bisnis lebih ke arah bertindak atau berbuat.


Strategi Memantapkan Pasar:


Dalam operasional bisnis pertama kali yang harus dilakukan adalah memantapkan dan mengembangkan pasar dari bisnis tersebut.
Apabila bisnis semakin berkembang dan semakin maju, ada kecenderungan menarik investor lain untuk ikut terjun dalam bisnis tersebut.

Hal ini menyebabkan persaingan semakin tajam. Bahkan meskipun perusahaan tersebut pada waktu didirikan belum ada saingannya, proses waktu bila bisnis tersebut berkernbang cukup baik maka pesaing pasti masuk sehingga persaingan akan semakin tajam.
Apabila kurang waspada akan kalah bersaing, berarti menyebabkan penjualan semakin menurun.

Untuk lebih dapat mematapkan pemasaran, harus mampu memberikan kepuasan konsumen lebih baik daripada sebelumnya. Upaya untuk meningkatkan kepuasan konsumen harus dilakukan secara terus menerus. Sama sekali tidak boleh lengah, karena pesaing kita juga akan berusaha meningkatkan kepuasan konsumen terus menerus.


Apabila kepuasan konsumen yang kita berikan kalah dengan kepuasan konsumen yang diberikan pesaing, maka kita akan kalah bersaing. Untuk itu kita tidak hanya sekedar dituntut meningkatkan kepuasan konsumen, namun dapat memberikan nilai tambah yang  tidak dimiliki oleh pesaing. Dengan kepuasan plus, diharapkan perusahaan akan dapat memberikan yang  terbaik pada konsumen. Apabila tidak, maka akan kalah bersaing.


2.3.     Pentingnya Kualitas Unggul dengan Keunikan

Untuk dapat memantapkan dan mengem-bangkan pemasaran, maka pertama-tama yang harus kita lakukan adalah memantapkan produk/jasa yang dihasilkan. Memantapkan produk/jasa dalam arti mampu meningkatkan kulitas produk / jasa yang dihasilkan sesuai selera konsumen. Hal ini harus diperhatikan oleh setiap perusahaan apalagi untuk perusahaan yang produk / jasa yang dihasilkannya , konsumen sangat sensitif terhadap kualitas. Apabila konsumen sangat sensitif terhadap kualitas, maka sedikit menurun kualitasnya, konsumen akan mengeluh bahkan menjerit, yang proses waktu selanjutnya akan meninggalkannya sebagai langganan. Misalnya untuk produk makanan dan minuman, konsumen begitu sensitif sehingga perlu perhatian utama terhadap kualitas. Hal ini tidaklah berarti terhadap produk/jasa yang konsumen tidak begitu sensitif kita dapat mengabaikan kualitas. KualitaS produk / jasa harus selalu diperhatikan oleh setiap perusahaan, apalagi bila konsumen begitu sensitif terhadap perbedaan kualitas.

2.4. Mendekati Selera Konsumen

Untuk memantapkan produk / jasa sesuai dengan selera konsumen, maka pertama-tama kita harus tahu bagaimana selera konsumen kita. Untuk itu kita harus mampu meramu formula lebih baik dari pada formula yang dimiliki oleh pesaing kita. Hal ini memerlukan kegiatan  penelitian dan uji coba.

Begitu pentingnya masalah ini, sehingga ada yang mengatakan apabila ada perusahaan yang mampu membuat formula produk / jasa yang sesuai dengan selera konsumen maka lebih separuh dari sukses pemasaran telah di tangan. Apalagi bias konsumen sangat sensitif terhadap kualitas produk/jasa tersebut. Dengan formula yang tepat berarti kita mempunyai kemungkinan Iebih unggul dalam kualitas produk/ jasa dibandingkan pesaing. Apabila kita telah menemukan formula yang tepat , maka kita harus mempertahankan formula tersebut. Disamping mempertahankan formula tersebut, juga harus merahasiakan bocornya formula terhadap pesaing. Penemuan formula yang tepat tidak berarti dapat berpuas diri.


2.2.             Mempertahankan Kualitas dan Keunikan

Penemuan formula yang tepat terhadap produk/jasa harus dipertahankan. Untuk mempertahankan formula yang telah ditetapkan ini, tidaklah mudah. Dalam praktek sering ditemukan penurunan kualitas produk/jasa dari suatu perusahaan, sehingga penjualan menjadi menurun. Dengan kata lain harus dapat dipertahankan kualitas produk / jasa. Untuk dapat mempertahankan kualitas produk/jasa pertama-tama harus dipertahankan proses produksi yang dapat menjaga kualitas.



Pembelian bahan baku yang salah juga dapat menyebabkan kualitas produksi menurun. Dengan kata lain kualitas produksi/jasa menurun sehingga tidak sesuai dengan formula yang telah ditetapkan. Hal ini dapat terjadi karena beberapa hal antara lain ;
a.    Kesalahan dalam proses produksi.
b.        Kesalahan dalam peralatan/mesin yang kita gunakan,
c.         Kesalahan dalam pembelian bahan baku.
d.        Kesalahan dalam pembungkusan.
e.    Kesalahan dalam pengangkutan dan masih banyak lagi.

Apabila kontrol terhadap kualitas ini dapat dilakukan dengan baik, sesuai dengan formula yang ditetapkan,  sedangkan formula yang ditetapkan adalah formula yang tepat, maka kemantapan dan pengembangan pemasaran akan dapat dilakukan lebih lanjut.

2.6. Strategi Penyaluran

Meskipun kita sudah mampu memproduksi barang/jasa dengan kualitas prima serta mampu rnempertahankan kualitas tersebut tidaklah hal ini memberikan jaminan sepenuhnya lancarnya pemasaran. Untuk melancarkan pemasaran perlu strategi yang tepat dalam penyaluran barang/jasa. Dalam hal ini kita mengenal penyaluran secara langsung dan penyaluran secara tidak langsung. Penyaluran secara tidak langsung adalah penyaluran kepada konsumen yang memakai barang / jasa tersebut atau konsumen yang membeli untuk diproduksi lebih lanjut .

Dalam hal ini pada umumnya penyalurannya dengan membentuk organisasi tersendiri yang menggunakan tenaga-tanaga sales yang mana mereka harus dididik untuk dapat melakukan pendekatan dengan calon-calon pembeli. Sebaliknya kalau pembeli itu adalah konsumen pemakai langsung maka pada umumnya jumlahnya begitu banyak dan tersebar luas. Dalam hal ini dapat menggunakan distributor atau agen. Dalam hal ini harus mampu mencari penyalur yang bonafide serta mampu membina hubungan yang baik dengan penyalur. Cara mana yang dipakai untuk penyalur barang / jasa, tentunya tidak ada rumusan pasti semuanya tergantung situasi dan kondisi, meskipun kecenderungannya adalah demikian. Dengan penetapan saluran distribusi yang tepat diharapkan akan menunjang pemasaran .

2.7. Promosi Penjualan

Dengan saluran distribusi yang tepat, akan dapat disalurkan produk secara efektif dan efisien kepada pembeli dan calon pembeli. Tetapi inipun belum memberikan jaminan sepenuhnya barang / jasa tersebut pemasarannya akan berjalan lancar. Mengapa ? Sebab pesaing juga menyalurkan barang/jasa seperti kita. Sehingga konsumen dan calon konsumen mempunyai banyak pilihan untuk memenuhi kebutuhannya. Apabila barang/jasa masih baru dibandingkan yang lain, dapat saja mereka itu menjatuhkan pilihan kepada barang/jasa dari pesaing.

Bahkan meskipun barang / jasa sudah cukup lama dapat saja mereka menjatuhkan pilihannya kepada barang/jasa pesaing. Mengapa ? Hal ini mungkin barang/ jasa pesaing lebih dikenal dan lebih dipercaya daripada barang / jasa kita. Untuk itu harus dipikirkan kemungkinan melakukan promosi penjualan. Apalagi barang / jasa sejenis yang dipasarkan tersebut memerlukan sekali promosi penjualan, misalnya untuk produk obat-obatan bebas. Tanpa promosi yang cukup gencar sulit untuk bersaing.


2.8. Harga Bersaing

Dalam operasional bisnis, harus dapat ditetapkan harga yang bersaing sesuai dengan kualitas barang / jasa. Apalagi bila sebagian konsumen sangat sensitif dengan perbedaan harga jual yang ditetapkan. Semakin sensitif konsumen, maka harus dapat ditetapkan harga jual yang lebih rendah dari yang ditetapkan oleh pesaing. Setidak-tidaknya sama atau setara dengan pesaing. Apabila tidak maka akan kalah bersaing harga. Seringkali sulit untuk dapat menetapkan harga yang lebih rendah atau setidaknya setara dengan pesaing. Akan tetapi untuk melakukan hal ini tidaklah mudah, sebab dapat saja perusahaan akan sulit mendapatkan keuntungan yang wajar dan bahkan adakalanya harus rugi. Apabila kerugian tersebut hanya bersifat sementara mungkin masih dapat ditolerir.

Tetapi apabila kerugian tersebut harus diderita dalam jangka panjang kemungkinan sulit perusahaan tersebut dipertahankan. Untuk itu perusahaan mutlak harus melakukan efisiensi dalam segala bidang. Efisiensi ini harus lebih dipertahankan lagi, bila daya beli masyarakat cenderung turun. Meskipun peningka- tan efisiensi ini diperlukan, tetapi bagi perusahaan yang memproduksi barang / jasa yang konsumennya tidak begitu sensitif terhadap perbedaan harga, peningkatan efisien ini tidak sebagaimana tuntutan bagi perusahaan yang konsumen/calon konsumennya sangat sensitif terhadap perbedaan harga.


2.9. Pembinaan Relasi

Dalam operasional bisnis peranan relasi begitu penting. Perusahaan tanpa relasi pada hakekatnya adalah perusahaan semu. Relasi dalam hal ini adalah relasi dagang, relasi pemerintah dan relasi konsumen. Untuk menunjang suksesnya perusahaan, maka perusahaan harus mampu membina hubungan dengan relasi tersebut dengan baik. Keharmonisan hubungan dengan para relasi tersebut sangat berpengaruh terhadap sukses tidaknya bisnis. Relasi dagang terutama supplier akan memperlancar proses produksi karena pasokan bahan baku dan bahan pembantu yang lancar, berkualitas serta harga bersaing. Relasi dalam arti konsumen ini termasuk kelompok penyalur, juga harus mendapatkan perhatian utama, sebab ini berpengaruh terhadap pemasaran yang menentukan hidup matinya perusahaan.

Sementara itu, relasi dalam arti pemerintahan juga harus diperhatikan apalgi bagi bisnis yang perlu dukungan dari pemerintah. Sebenarnya relasi bisnis tersebut begitu luas sehingga termasuk juga kelompok perbankan serta kelompok lembaga keuangan yang lain. Untuk pembinaan relasi ini diperlukan atensi, serta menanamkan kepercayaan. Jangan menimbulkan kesan yang merugikan relasi. Terjadinya konflik dengan relasi harus dihindarkan.

2.10. Modal Usaha

Bagaimanapun dalam operasional bisnis, masalah permodalan tidak boleh diabaikan. Dalam permodalan ini yang dimaksud adalah jumlah modal yang dapat mendukung operasional dan perkembangan perusahaan. Karena itu perkembangan perusahaan hendaknya disesuaikan dengan jumlah modal yang dapat disediakan. Kalau tidak, maka dengan semakin besarnya perusahaan akan semakin rapuh. Bagaimana perusahaan menyediakan modal untuk operasiorial dan perkembangan perusahaan, dapat  dilakukan dengan berbagai cara.

Perusahaan dapat menyediakan dana dengan modal sendiri, menggunakan sebagian keuntungan perusahaan, bekerja sama dengan yang lain, melakukan pinjaman dengan perbankan dan masih banyak yang lain. Ini semua dapat dilaksanakan bila hubungan kita baik dan kita dapat membuktikan bahwa kita dapat dipercaya. Selain penyediaan dana, kita harus mampu mengelola dana tersebut seefektif dan seefisien mungkin.

Dengan demikian kelancaran perusahaan dapat lebih terjamin. Dapat saja modal yang ada cukup memadai, tetapi karena pengelolaan yang tidak baik, likuiditas perusahaan dapat terganggu.


2.11. Administrasi

Bagaimanapun juga, dengan semakin besarnya sekala perusahaan diperlukan administrasi yang lebih tertib. Apakah itu administrasi keuangan, administrasi bahan baku, administrasi personalia harus ditangani lebih baik. Dengan administrasi yang baik ini kemungkinan penyimpangan dan penyelewengan dapat dihindarkan. Disamping itu dengan administrasi yang baik ini dapat dipakai sebagai landasan untuk pengambilan keputusan.

Oleh karena itu hendaknya tidak mengabaikan masalah administrasi ini, apalagi administrasi keuangan. Semakin besar perusahaan, administrasi harus ditingkatkan lebih baik. Hal ini penting sebab dapat saja terjadi perusahaan mengalami kerugian tanpa diketahui sebabnya. Semuanya sebaiknya dicatat. Meskipun pemilik sendiri yang mengambil barang harus dicatat.

2.12. Sumberdaya Manusia

Dalam operasional bisnis sukses tidaknya bisnis tersebut, banyak ditentukan oleh sumberdaya manusia yang berkualitas. Apalagi dalam persaingan yang semakin tajam,  pembinaan dan peningkatan kualitas sumberdaya manusia harus diperhatikan. Kalau perlu diberikan latihan dan pendidikan.

Ada beberapa perusahaan yang menganggap kegiatan peningkatan kualitas sumberdaya manusia adalah sebagai pemborosan. Padahal peningkatan kualitas sumberdaya manusia adalah investasi jangka panjang dimana dapat saja sepintas lintas bagai pemborosan tetapi sebenarnya dalam jangka panjang dan secara total justru sebagai penghematan.

Betapa pentingnya peningkatan kualitas sumberdaya manusia, sehingga ada ungkapan yang menyatakan :

Persaingan antara perusahaan pada hakekatnya adalah persaingan antara sumberdaya manusia yang dimiliki.

Hal ini berarti bahwa siapa (perusahaan) yang memiliki sumberdaya manusia yang berkualitas dialah yang kemungkinan memenangkan persaingan.


III.               PROPOSAL  KEGIATAN BISNIS

3.1.            Makna Proposal



“Proposal” atau “usulan”
pada hakekatnya merupakan “dokumen” yang mendeskripsikan kegiatan bisnis, yang dibuat dengan tujuan untuk disampaikan kepada “pihak sponsor” untuk mendapatkan pembiayaan untuk melaksanakan kegiatan.







3.2.            Indikator Kelayakan suatu Proposal Kegiatan Bisnis


Enam indikator penting adalah:

INPUT  bagi kegiatan bisnis
PROSES operasionalisasi kegiatan bisnis
OUTPUT pelaksanaan kegiatan bisnis
OUTCOMES
BENEFIT
IMPACTS.





MODUL

ANALISA USAHA TANI



Analisa usahatani merupakan suatu perhitungan kebutuhan biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan usahatani dan jumlah pendapatan yang diperoleh dari hasil usahatani tersebut dalam kurun waktu tertentu.
Biasanya petani menyusun rencana usaha berdasarkan perasaan dan kebiasaan saja dan dibuat tidak tertulis. Rencana usaha yang dibuat secara tertulis akan memudahkan petani untuk menilai kembali apakah rencana usaha yang telah dilakukan memberikan hasil yang menguntungkan ataukah ada kegiatan-kegiatan lain yang perlu untuk diperbaiki, penghematan-penghematan atau ada faktor resiko yang harus dipertimbangkan yang akan sangat berguna untuk rencana usaha pada musim/periode berikutnya.

Tujuan
Untuk apa membuat rencana usaha ?
  1. sebagai pedoman dalam menjalankan usaha
  2. untuk memperkecil terjadinya resiko usaha yang tidak diperhitungkan
  3. untuk menjamin tumbuhnya tanggung jawab terhadap kelangsungan usaha
  4. untuk membantu dalam upaya perbaikan dan peningkatan usaha selanjutnya
  5. pada rencana usaha yang disusun secara berkelompok dapat menumbuhkan rasa memiliki, tanggung jawab dan peran aktif semua anggota dalam pelaksanaan usaha bersama.
Apa yang perlu diperhatikan dalam membuat rencana usaha yang baik ?
  1. lengkap dan cermat yaitu pertimbangan berbagai hal yang menjadi unsur-unsur rencana usaha (jenis usaha yang dipilih, kebutuhan sarana produksi, perkiraan hasil, dll).
  2. sederhana dan mudah dilaksnakan baik oleh petani/keluarga tani ataupun oleh kelompok tani.
  3. terbuka artinya memberi peluang untuk dilakukannya perbaikan pada setiap usaha
  4. berkelanjutan (secara terus menerus) supaya memberikan gambaran yang lengkap agar mudah untuk dinilai, diperbaiki dan ditingkatkan pada siklus selanjutnya
  5. pada rencana usaha yang dibuat secara berkelompok harus diproses berdasarkan kesepakatan dan dengan jelas menentukan tanggung jawab dari masing-masing anggota.

CARA MEMBUAT RENCANA USAHA
  1. identifikasi setiap tahapan usaha yang harus dijalankan dalam suatu periode usaha (bisa musin, tahun atau periode usaha tertentu).
  2. Catat kegiatan-kegiatan usaha untuk setiap[ tahapan usaha tersebut.
  3. perghitungkan berapa kebutuhan barrang/ uang/tenaga dalam setiap kegiatan.
  4. Hitung kemungkinan hasil dan keuntungan yang akan dperoleh dalam menjalankan usaha tersebut.
  5. jangan lupa memperhitungkan biaya-biaya lain seperti pajak atau iuran-iuran yang berkaitan dengan jalannya usaha kita.



Pencatatan usaha tani
Informasi mengenai pendapatan, tentang tenaga kerja, dan biaya-biaya lainnya yang berkenaan dengan produksi jenis-jenis tanaman tertentu akan sangat bermanfaat untuk berbagai hal. Informasi itu dapat berguna untuk:
  • peniliti dalam menentukan pokok penelitiannnya
  • perencana dalam memperkirakan kemungkinan keuntungan suatu proyek
  • petani dalam mengembil keputusan-keputusan dalam pengelolaan usaha taninya
  • penyuluh dan petanbi sebagai dasar diskusi yang terarah pada pencarian cara-cara memperbaiki ekonomi usaha tani.

Pengumpulan data
Informasi tentang tanaman dapat dikumpulkan dengan berbagai cara. Metode yang digunakan tergantung pada sumber daya yang tersedia setempat, tujuan serta derajat ketepatan yang diperlukan.

Lokakarya pengumpulan data
Kumpulkan para petani (pria dan wanita) dari daerah tertentu untuk suatu lokakarya selama satu atau dua hari. Kelompok yang terdiri dari 3 sampai lima orang petani diharapkan mendiskusikan suatu tanaman tertentu dan mengisi lembar informasi tentang hal itu. Data tentang masing-masing jenis tanaman dapat disajikan dan didiskusikan dengan para peserta.

Wawancara par petani secara perorangan oleh penyuluh
Wawancara merupakan cara pengumpulan informasi yang cukup menyita waktu. Selain itu mungkin saja data yang terkumpul tidak lebih tepat dari pada data yang terkumpul melalui lokakarya maupun pertemuan kelompok.

Pengumpulan dat oleh para petani
Para individu yang berminat biasa mengumpulkan informasi sendiri sementara menjalankan kegiatan-kegiatan pertanian sehari-hari.
Pada awalnya penyediaan oleh penyuluh diperlukan untuk memastikan bahwa dat itu tercata seacara benar. Setiap 6 sap[ai dengan 12 sekali, penyuluh dapat mengumpulkan informasi dari para petani untuk analisa penyajian.

Data yang diperlukan
  • Jumlah hasil panen
  • Pupuk dan pestisida-pengelolaan, penggunaan, jumlah dan biayanya.
  • Penggunaan tenaga kerja – jumlah hari kerja orang untuk masing-masing kegiatan yang berbeda, biayanya perhari.
  • Masukan-masukan yang lain dan biayanya
  • Pendapatan, harga jual yang diterima, jumlah yang terjual
  • Kendala-kendala dalam budidaya masing-masing jenis tanaman
  • Pemasaran

Penyajian hasil
Settelah dikumpulkan. Informasi-informsi tersebut harus disajikan secar sistematis namun sederahana agar orang dapat memahaminya. Penyajian itu semestinya merangsang diskusi diantara para petani dan para peneliti/penyuluh. Wkatu yang sesuai adalah pada pelatihan-pelatihan singkat lokakarya atau pertemuan kelompok.

  1. Contoh Analisis Usaha Tani Kemiri
Analisa biaya terdiri dari biaya sarana produksi, tenagga kerja, dan panen, sedangkan keuntungan dihitung berdasarkan biaya-biaya yang dikeluarkan selama proses produksi samapai panen pertama pada tahun ketujuh. Perhitungan ini berdasarkan analisa usaha dengan luas 1 ha.

No
Uraian
Tahu ke (Rp)


1
2 s/d 6
7
8
1
2
3
4
5
6
I
Sarana produksi




1.
Bibit 625 @ Rp 2000
125.250.000



2
Pupuk kandang 10 kg / ph @ 150
937. 500



3
NPK50 kg/ th/ ha @ Rp. 3000
150000
750000
150000
150000
II
Tenaga Kerja




5
Pembuatan lobang tanam Rp.500/ lobang
312.000



6
Penanaman Rp.100/pohon
62.500



7
Pemeliharaan Rp. 100.000/ bln
1.200.000
6.000.000
1.200.000
1.200.000
8
Biaya panen 100 HOK/ha @ Rp. 8000
0
0
800.000
800.000

Sub jumlah II
1.575.000
6.000.000
1.200.000
1.200.000

Total biaya I + II
 3.912.500
6.750.000
2.150.000
2.150.000
III
Panen perdana 50 kg / pohon = 30 ton


24.000.000

10
Panen 2, 80kg/pohon =49.600 kg



39.680.000
IV
Keuntungan




11
Panen pertama
Biaya th. Ke 1-7


11.875.000

12
Panen ke 2



37.530.000

Keterangan :
-          Luas lahan 1 ha dengan populasi tanaman 625 tanaman
-          Produsi setelah tahun ke-10 rata-rata 100 kg/pohon
-          Harga di tingakat petani Rp. 800/ kg
-          Luas lahan efektif minimum 2 Ha


2. contoh usaha tani Bambu di Lampung
Analisa biaya terdiri dari biaya produksi, pendapatan dan keuntungan biaya produksi dihitung berdasarkan biaya-biaya yang dikeluarkan selama proses produksi sampai tahun ke-empat.sedangkan biaya produksi setelah tahun ke-lima didasarkan pada biaya pembelian pupuk dan penebangan sementara harga penjualan sangat bervariasi dari mulai Rp. 1.500- Rp.3000 per batang tergantung jenis, tempat, dan kebutuhan pasar.
Dari hasil perhitungan pasar biaya produksi dari tahun keempat sebesar Rp. 10.752.600 dengan asumsi bunga perbankan 10 % maka sampai dengan tahun keempat biayas produksi menjasi p.10.752.600 +40 % x Rp.10.752.600 = Rp.15.050.640
Modal tersebut diperkirakan akan kembali pada tahun kelima dan keenam, sedangkan ahasil penjualan tahun keempat tidak diperhitungkan karena keadaan bambu masih kecil-kecil. Keuntungan tahun ke lima sebesar Rp 8.125.000, tahun keeenam sebesar Rp. 10.625.000,-

No
Komponen Biaya
Fisik
Biaya
Biaya Total
A.
Tahun pertama



1
Bibit
200
3000
600.000
2
Pupuk Urea
50 kg
1500
75.000

TSP
100 kg
1500
150.000
3
Tenaga kerja
177,08 HOK
20 HOK
3.541.600

Tahun kedua



1
Pupuk Urea
100 kg
1500
150000
2
TSP
150 kg
1500
225.000
3
Tenaga kerja
82,85 HOK
20 HOK
1.657.000

Tahun ketiga



1
Pupuk urea
150 kg
1500
225.000
2
TSP
200 kg
1500
300.000

Tenaga Kerja
82,85 HOK
20 HOK
1.577.000

Tahun ke empat



1
Pupuk urea
200 kg
1500
300.000
2
TSP
250 kg
1500
375.000

Tenaga Kerja
82,85 HOK
20 HOK
1.577.000

Biaya produksi/ ha sampai tahun ke empat 
Bunga bank 10%/ tahun selama 4 tahun
Biaya total sampai tahun ke empat
10.752.600
4.301.040
15.053.640
B
Pendapatan/ keuntungan
1.  Biaya produksi tahun ke lima 2000 bt a. Rp. 2.0000
Pendapatan tahun ke lima
Biaya produksi:
-          Pupuk Urea + TSP (300.000+375.000)
-          Tenaga kerja 60 HOK @ Rp. 20.000
Keuntungan tahun ke lima

2.  Produksi tahun ke enam 2500 bt @ Rp. 5000
Pendapatan tahun ke lima
-          Pupuk Urea + TSP (300.000+375.000)
-          Tenaga kerja 60 HOK @ Rp. 20.000

Keuntungan tahun ke enam

10.000.000


675.000
1.200.000




675.000
1.200.000

10.625.000


MODEL LEMBAGA KEUANGAN (LKU)
BAGI KELOMPOK USAHA BERSAMA AGROINDUSTRI (KUBA)










Oleh:
Tim Ahli





LEMBAGA PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG, 2001


1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dalam mendukung pembangunan ekonomi pedesaan, pemerintah telah berupaya menyediakan berbagai fasilitas kredit pede­saan dengan meningkatkan peranan kelembagaan keuangan formal melalui BRI unit desa dan Koperasi Unit Desa (KUD). Melalui kebijakan seperti ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi pedesaan melalui peningkatan produksi dan kesempatan kerja di sektor pertanian dan luar pertanian di pedesaan baik berbentuk usahatani, perdagangan, industri kecil maupun ke- rajinan. Sejak dikeluarkan kebijakan tersebut sampai sekarang masih dijumpai berberapa permasalahan a.l: (a) kredit yang ada masih cenderung dimanfaatkan oleh golongan masyarakat bertanah; (b) masyarakat miskin belum terbiasa dengan prose­dur biroktrasi formal, sehingga menimbulkan kesan prosedurnya sulit. Keadaan tersebut mengakibatkan kelompok masyarakat miskin tidak dapat memanfaatkan fasilitas kredit yang dise­diakan oleh pemerintah. 
Fenomena kemiskinan di Indonesia masih cukup banyak. Hal ini dapat dilihat dari jumlah penduduk dan desa-desa yang tergolong miskin,  yaitu sekitar 27.2 juta jiwa dan sekitar 20 633 desa yang tergolong miskin atau tertinggal. Tingginya angka kemiskinan tersebut disebabkan oleh rendahnya kapabilitas sumberdaya alam dan/atau keterba­tasan modal untuk mengembangkan usaha ekonomi rumahtangga. Oleh karena itu harus dikembangkan lembaga perkreditan di pedesaan yang efektif dan sederhana sehingga dapat diakses oleh kelompok masyarakat miskin.
Berdasarkan kenyataan tersebut diperlukan sistem perkre­ditan yang dicirikan oleh : (a) mekanisme penyaluran kredit yang dapat diakses oleh kelompok masyarakat miskin; (b) saluran dan prosedur adnistrasinya sederhana ; dan (c) pem­berian kredit didasarkan atas kelayakan finansial usaha produktif rumahtangga. Model lembaga perkreditan seperti ini, yang disebut "Grameen Bank (Bank Desa)",  telah dicobakan di Bangladesh, yakni dengan jalan memberikan kredit kepada orang-orang miskin di pedesaan. Model ini ternyata mampu menunjukkan keberhasilan dalam mengurangi kemiskinan. Pende­katan yang digunakan dalam Bank Desa ini adalah "bottom up planning". Falsafah yang melan-dasi konsep ini adalah suatu "masyarakat desa mampu merencanakan dan menyelenggarakan kegiatan proyek investasi yang produktif dengan bertumpu pada kondisi setempat dan pada kemampuan sendiri". Bank Desa ini bersifat sebagai stimulator dalam menggugah dan mengembangkan daya kreatif dan semangat untuk berusaha. Bantuan dana (kredit) dan konsultasi teknis yang diberikan lebih bermakna sebagai motor pendorong laju kegiatan ekonomi yang telah mereka pilih.


1.2. Permasalahan

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan kemampuan berusaha dari golongan masyarakat di wilayah perdesaan. Namun demikian masih banyak di antara mereka yang  belum menunjukkan peningkatan status sosial ekonomi yang berarti, terutama bagi mereka yang tergolong paling kurang beruntung.
Orang miskin menguasai sumberdaya, ketrampilan, dan informasi  yang terbatas. Dengan bekal ini mereka hanya mampu memasuki segmen pasar kerja yang tidak mensyaratkan ketrampilan khu­sus, atau kalau berusaha hanya mampu dengan usaha yang berse­kala kecil. Dengan kondisi seperti ini maka produk dari usahanya tidak mempunyai daya saing yang cukup besar untuk memasuki pasar bebas, baik karena kualitas produk maupun tinmgkat harga jualnya. Salah satu kendala yang dihadapi untuk memperbesar skala usaha ini adalah modal yang terbatas dan akses terhadap lembaga keuangan modern sangat rendah. Rendahnya akses ini di antaranya disebabkan oleh karena persyaratan birokrasi dan kaidah-kaidah perbankan yang sangat rumit bagi kelompok masyarakat miskin yang tingkat pendidikan dan pengetahuannya sangat rendah. Oleh karena itu diperlukan adanya sistem lembaga keuangan yang dirancang secara khusus, sehingga dapat diakses oleh kelompok masyarakat miskin dan sekaligus dibatasi untuk tidak dapat diakses oleh kelompok masyarakat yang tidak miskin. Dengan teratasinya kendala birokrasi moneter ini diharapkan kelompok masyarakat miskin dapat memperkuat permodalannya dan me-ningkatkan skala usaha­nya.  Dari skala usaha yang lebih besar ini diperkirakan mereka mampu memperoleh pendapatan yang lebih besar sehingga dapat mengembalikan modal usahanya. 



II.  DISAIN MODEL LKU (Lembaga Keuangan KUBA)

2.1.  Konsepsi

Konsepsi LKU dikembangkan atas dasar kenyataan bahwa:
(1).  Jumlah orang miskin sangat besar (80%)
(2).  Jumlah penduduk buta huruf sangat besar (80%)
(3).  Pendapatan per kapita makin merosot akibat bencana alam yang terus menerus  menimpa masyarakat.
(4).  Orang miskin tidak dapat memperoleh pinjaman dari Bank karena berbagai sebab :
-  Kekayaan untuk jaminan hutang tidak ada.
-  Karena tidak dapat membaca, tidak dapat mengisi   formulir yang rumit.
-  Bank formal enggan menghadapi resiko tinggi tidak membayar.
-  Biaya pelayanan pinjaman tinggi.
           

2.2. Tujuan LKU

Beberapa tujuan dari LKU adalah
(1).    Memperluas akses fasilitas perbankan formal bagi orang miskin pria maupun wanita;
(2).    Menghapus eksploitasi pelepas uang;
(3).    Mencip­takan kesempatan untuk memanfaatkan sumber daya manusia yang belum dimanfaatkan sepenuhnya untuk bekerja;
(4).    Menghimpun masyarakat yang kurang mampu dalam bentuk organisasi yang dapat dimengerti, dimenerima dan dijalankan oleh mereka. Dengan cara ini mereka dapat menemukan kekuatan sosial dan ekonomi;
(5).    Memutuskan lingkaran kemiskinan.

Dalam kaitan itu perlu dibentuk suatu jenis lembaga keuangan yang memenuhi kebutuhan orang miskin a.l : (1). Bank mendatangi orang yang butuh pelayanan, bukan mereka yang masuk kantor Bank; (2). Bank tidak minta jaminan; (3). Nasa­bah tidak perlu mengisi formulir yang tidak mereka mengerti.

2.3. Cara Kerja LKU

Petugas LKU mendatangi desa-desa, menjelaskan kepada penduduk setempat mengenai bank tersebut dan cara operasinya. Warga yang dapat mengajukan kredit adalah :
-     Memiliki tanah < 0,50 Ha.
-     Nilai kekayaan maksimum sebesar nilai 0,5 Ha tanah kualitas sedang.
-     Kredit digunakan untuk usaha yang dapat menambah penghasi­lannya melalui KUBA.

Peminjam potensial membentuk kelompok, terdiri 10-20 orang, yang kondisi sosialnya sama. Dipilh Ketua dan Sekretaris untuk jangka waktu 1 tahun. Rapat kelompok minimal 1 kali per minggu.
Pembentukan Pusat Kelompok, dari 5-7 kelompok. Tiap Pusat Kelompok ada Ketua dan Wakil Ketua. Pertemuan diadakan satu kali dalam seminggu. Sebelum menjadi anggota Pusat Kelompok, dan menerima pinja­man, kelompok yang terbentuk harus mengikuti latihan mengenai falsafah dan prinsip operasional LKU.
Setelah lulus latihan, dua orang dalam tiap kelompok menerima pinjaman, kemudian mengangsur secara mingguan dalam waktu 50 minggu. Peminjam berikutnya akan menerima  pinjaman sesudah peminjam pertama mengangsur secara tertib dalam dua kali angsuran.

setiap peminjam wajib :
-     Menabung setiap minggu  Rp. 500,-
-     Menyetor 5% pokok pinjaman sebagai dana kelompok.
-     Menyetor 25% dari bunga pinjaman sebagai dana darurat (kematian, melunasi hutang anggota yang meninggal bila keluarga tidak mampu membayar, mengatasi kredit macet).
-     Besar bunga 20% dibayar pada akhir masa pinjaman.

Semua transaksi dilakukan waktu pertemuan Pusat kelompok.

Petugas LKU wajib :
-     Memberi pinjaman.
-     Mengumpulkan angsuran.
-     Mengumpulkan dana kelompok dan dana darurat untuk disimpan di bank.
-     Membahas usulan dan kesulitan secara terbuka.  
-     Mengunjungi rumah anggota sesudah selesai pertemuan. 


III. DISAIN DAN METODE PENYELENGGARAAN

3.1 Prinsip Pemberian Kredit

Dalam melaksanakan konsep perkreditan ini diterapkan prinsip-prinsip sederhana sebagai berikut .
Pinjaman diberikan tanpa agunan atau penjamin dan tanpa tindakan hukum apabila tidak dapat membayar kembali pinjamannya.  Pinjaman diberikan kepada wanita yang berasal dari rumah tangga termiskin di wilayah pedesaan. Prosedur pember­ian kredit dibuat sesederhana mungkin, sesuai dengan budaya masyarakat setempat.
Calon anggota membentuk kumpulan dan minimal dua kumpu­lan membentuk satu rembug pusat. Dalam satu "Rembug Pusat" maksimum enam kumpulan.
Pinjaman diberikan untuk kegiatan usaha produktif. KUD memberikan pinjaman tahap I jumlahnya maksimum setara dengan Rp 100.000,00. Pinjaman diberikan secara berurutan, dua anggota kelompok yang membutuhkan diberi prioritas pertama, kemudian menyusul dua anggota lainnya, sesudah 2 anggota pertama mengangsur 2 kali secara tertib, sedangkan ketua kumpulan menerima pinja­man paling akhir.
Pengawasan dilakukan dalam penggunaan pinjaman dan pembayaran angsuran. Peminjam diberi kemungkinan meminjam kembali setelah pinjamannya lunas dalam jumlah maksimum dua kali pinjaman pertama.
Setiap peminjam dikenakan simpanan wajib sebesar 5 % dari jumlah pinjaman dan disimpan sebagai Tabungan  Kumpulan, dan setiap anggota menabung Rp. 100,00 setiap minggu dalam tabun­gan kumpulan.
Pinjaman diberikan tanpa bunga, tetapi dikenakan biaya admin­istrasi.
Pembebasan hutang apabila anggota meninggal dunia.
Semua transaksi pinjaman dan tabungan diadakan dalam Rembug Pusat.


3.2.  Kelayakan Nasabah yang Mendapat Pinjaman

Agar program ini dapat mencapai sasarannya yaitu agar pinjaman hanya diberikan kepada orang-orang atau rumah tangga yang menjadi anggota KUBA, maka ditetapkan krite­ria tertentu mengenai penghasilan, pemilikan rumah, tanah dan aset lainnya untuk memperoleh pinjaman. Syarat-syarat kelayakan tersebut adalah ;
(a).  Rumah tangga yang bersangkutan memilik tanah tegalan sekitar 0.50 ha yang dapat didaftarkan sebagai calon kebun .
(b).  Pendapatan perkapita rumah tangga kurang terutama dari sektor pertanian.
(c).  Memiliki aset berupa harta bergerak (mebel, perhiasan, radio, televisi, tape, ternak, alat pertanian dan harta tak bergerak (tanah, rumah) dengan nilai maksimum kurang dari 0,5 ha tanah tegalan kualitas sedang.
(d).  Peminjam memiliki ketrampilan dalam usaha agribisnis komoditas yang akan dijalankan.
(e).  Peminjam memiliki kesanggupan untuk mengelola modal bergulir yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan kelayakannya.

IV.  PENYIAPAN TENAGA PENGELOLA  LKU

Dalam kerangka upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah pedesaan, pemerintah mulai Pelita VI telah mencanangkan gerakan pengentasan penduduk miskin dari kemiski­nannya di seluruh tanah air.  Salah satu program khusus untuk men­sukseskan gerakan nasional ini dituangkan dalam bentuk “gerakan sadar Koperasi” dan “tahun pemantapan koperasi”. Sebagai salah satu program penanggulangan kemiskinan, pelaksanaan kedua kebijakan ini dikaitkan dengan pengembangan komoditas unggulan wilayah dan pembinaan kemandirian KUD. Program ini diharapkan dapat didukung oleh program-program sektoral dan regional dalam kerangka mewujudkan “Produk Unggulan Wilayah” melalui pendekatan KIPMAS.  Dengan demikian dampak positif dari program LKU ini akan semakin besar dan pada akhirnya kemiskinan di wilayah perdesaan secara berangsur-angsur akan dapat ditanggulangi.  Sebagai suatu program yang strategis dan koordinatif, dalam pelaksanaan LKU harus dapat dipupuk dan dibina semangat kebersamaan yang tinggi di antara berbagai pihak yang terkait baik yang "membantu" maupun yang "dibantu" yaitu kelompok masyarakat yang bergabung dalam Kelompok Usaha Bersama Agribisnis (KUBA). Oleh karena itu konsepsi, posisi, maupun operasionalisasi program LKU harus dipahami dan di­hayati secara utuh oleh setiap pemeran yang terkait dalam upaya pengentasan penduduk miskin secara terpadu mulai dari tingkat pusat sampai tingkat desa, termasuk para tenaga pengelola. 
Salah satu bentuk implementasi dari program LKU adalah pemberian bantuan dana bergulir dan bantuan teknis serta manajemen kepada KUBA di Desa-desa sentra pengembangan agribisnis komoditas unggulan.  Dengan dukungan bantuan dana ini diharapkan KUBA mampu meningkatkan akses dan kualitas sumberdaya manusia yang ada dan pada giliranya mampu mengembangkan usaha agribisnisnya untuk memperbaiki taraf hidupnya secara bertahap dan berkelan­jutan.
Pada tingkat desa, program LKU dilaksanakan dengan menggalang parti­sipasi aktif kelembagaan sosial yang sudah ada di desa, seperti LKUD, PKK, Dasa Wisma, KPD, dan organisasi kemasyarakatan lainnya. Dalam konteks inilah diharapkan tenaga pengelola diharapkan dapat berperan secara lebih aktif membantu proses interaksi di antara kelembagaan sosial ini dengan KUBA untuk mengembangkan dirinya dengan dana bantuan bergulir tahun sebagai "seeding funds" secara efektif dan efisien.  Dengan demikian diharapkan tenaga pengelola mampu melibatkan secara aktif dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan kegiatan kelompok masyarakat miskin. Untuk memperoleh pemahaman yang mendasar, utuh dan menyeluruh tentang konsep serta pola operasionalisasi program LKU, diperlukan suatu upaya yang efektif yaitu melalui suatu pelatihan bagi semua pemeran yang terkait.  Salah satu pemeran yang memiliki posisi kunci untuk keberhasilan program LKU adalah Tenaga Pengelola. Tenaga pengelola ini diharapkan dapat menjadi orang yang paling dekat dengan kelompok sasaran (KUBA), dan pengelola adalah mitra kerja dari KUBA.
Dengan memperhatikan kenyataan bahwa belum semua desa mempunyai LKU dan perangkat kelembagaan sosial serta kelompok- kelompok masyarakat yang memadai untuk melaksanakan fungsi-fungsi di atas, serta keterbatasan akses KUBA terhadap berbagai fasilitas dan kemudahan-kemudahan yang disediakan pemerintah, maka diperlukan upaya tambahan berupa bantuan asistensi teknis inovatif dari luar.  Bantuan teknis-inovatif ini kiranya harus diberikan oleh tenaga-tenaga teram­pil yang telah dipersiapkan secara khusus untuk keperluan tersebut.
Bertitik tolak dari pemikiran seperti di atas, diperlukan upaya pelatihan khusus untuk membina /melatih tenaga pengelola. Ke dalam setiap tenaga pengelola ini harus ditanamkan dan dibina sikap mental yang sangat diperlukan, yaitu (1) Disiplin, (2). Pengabdian, (3) Semangat perjuangan, (4) Tekun dan Telaten, dan (5) Teliti. 



4.1.  TUJUAN
Program penyiapan tenaga pengelola ini pada hakekatnya dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap pelatihan  dan tahap pembinaan dan pemantauan. Tujuan jangka panjang dari program ini secara keseluruhan adalah:
1. Mendukung gerakan nasional “Sadar Koperasi” dan “Pemantapan Koperasi”, khususnya keberhasilan program LKU, melalui penempatan tenaga pengelola sebagai tenaga pengelola KUBA.
2.  Membina dan mengembangkan tenaga pengelola yang diharapkan dapat membantu Kelembagaan Perkoperasian di Desa dan Pemerintahan Desa dalam menggalang usaha pengembangan kualitas sumberdaya manusia,  serta mendampingi Kelompok-kelompok Masyarakat (KUBA) dalam upaya meningkatkan taraf hidupnya.

Tujuan tahap pelatihan adalah:

1.  Memantapkan semangat dan wawasan kebangsaan dan ketahanan nasional serta memantapan sikap-mental para calon Tenaga Pengelola.
2.  Menumbuhkan dan membina sikap kedisiplinan, ketekunan dan ketelitian, semangat pengabdian dan perjuangan, jiwa kepeloporan (pioneering), serta kewira-usahaan dalam agribisnis.
3. Memberikan dasar-dasar kesiapan bio-fisik dan psikologi sebagai bekal untuk berinteraksi dengan lingkungan alam dan lingkungan sosial di wilayah perdesaan.
4.  Memberikan bekal tambahan pengetahuan umum tentang pembangunan masyarakat desa, permasalahan kemiskinan dan profil orang miskin, dan pengetahuan lain yang terkait dengan manajemen agribisnis.
5. Memberikan bekal pemahaman konsepsi dan operasionalisasi pelaksa­naan program LKU.




4.2.  RUANG LINGKUP

Ruang lingkup kegiatan meliputi:

1. Recruitment dan   seleksi awal oleh masing-masing lembaga
2. Seleksi peserta pelatihan untuk setiap angkatan
3. Pelaksanaan pelatihan secara bertahap berkesinambungan, tahap pertama terdiri atas lima angkatan, setiap angkatan diikuti oleh sekitar 50 orang selama 10 hari.
4. Pembinaan dan pemantauan selama tiga tahun, mencakup kegiatan:
a. Pengembangan pusat informasi dan pengendalian di Propinsi dan di Kabupaten
b. Penyaluran dana bantuan (Kaji tindak khusus) untuk  mendorong terbentuknya LKU yang sesuai bagi kelompok masyarakat (KUBA). Dana bantuan ini dapat digunakan sebagai modal usaha agribisnisnya bagi KUBA yang dapat digulirkan.
c.  Pelaporan, Supervisi dan konsultasi reguler
d.   Membina hubungan kemitraan antara koperasi pedesaan, KUBA, tenaga pengelola dengan dinas/instansi teknis di tingkat desa dan kecamatan
e.   Temu karya regional setahun sekali.


4.3.  HASIL YANG DIHARAPKAN

Setelah pelatihan selesai diharapkan peserta sebagai calon tenaga pengelola dalam program LKU menguasai dan mempunyai kualifikasi khusus, yaitu:
1. Sikap mental,. semangat dan wawasan kebangsaan yang dapat diandalkan untuk mendukung tugas-tugas pengelolaannya, serta mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dan berintegrasi dengan lingkungan sosial dan lingkungan alam di wilayah perdesaaan.
2. Menguasai dasar-dasar pengetahuan umum dan ketrampilan teknis tentang:
2.1. Kebijaksanaan pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan.
2.2. Konsepsi dasar agribisnis dan LKU
2.3. Operasionalisasi LKUmelalui tahap perencanaan, pelak sanaan dan tindak lanjut program pengendaliannya.
2.4. Kemampuan sebagai fasilitator, komunikator dan dinamisator KUBA.
2.5. Kemampuan sebagai pemantau perkembangan kelompok masyarakat (KUBA).


4.4.  PESERTA PELATIHAN
Peserta pelatihan adalah wakil-wakil dari desa yang lolos seleksi (PPL, karang taruna, pemuda tani, santri, remaja masjid, atau lainnya) yang bersedia menjadi tenaga pengelola KUBA. Tenaga ini dipersiapkan menjadi calon pengelola Program LKU, yaitu tenaga lapangan yang ditetapkan sebagai mitra kerja atau pem­bimbing penduduk miskin yang menyatukan diri dalam KUBA. 

4.5.  METODE PELATIHAN

A.  Prinsip
Tiga prinsip dasar yang digunakan dalam pelatihan adalah "Safety ,  Skills,  dan Satisfaction".  Prinsip keamanan sangat diperlukan mengingat sebagian program pelatihan dilaksanakan di alam bebas hutan pegunungan dengan segala macam "kegarangan" alamnya.  Tambahan pengetahuan diperlukan mengingat peserta pelatihan berasal dari berbagai disiplin ilmu, sehingga memerlukan bekal pengetahuan dan ketrampilan tambahan untuk dapat menjalankan fungsi pengelolaan dengan baik.  Sedangkan prinsip "kepuasan" diperlukan untuk menanamkan rasa cinta pekerjaan.
Program pelatihan untuk menanamkan sikap disiplin dirancang secara implisit dan membaur dengan program lainnya.  Empat prinsip yang digunakan dalam program ini sesuai dengan tahapan pelaksanaan pelatihan adalah (1) prinsip doktrinasi, (2) prinsip kesepakatan/konsensus, (3)  prinsip kelompok, dan (4) kemandirian pribadi individual.

B.  Pendekatan
1.   Para peserta disiapkan secara khusus dengan pembekalan teknis dan non-teknis mengenai manajemen agribisnis, profil masyarakat miskin dan masalah-masa­lah kemiskinan, strategi pengembangan kelompok usaha bersama agribisnis, koperasi, perkreditan dan lembaga keuangan, serta kewira-swastaan.  Penyaipan aspek mental-spiritual dilakukan secara khusus untuk lebih memupuk dan memantapkan sikap mental yang idealistik, dedikatif, dan transparansi; serta bersemangat dan berwawasan kebangsaan yang handal.
2.   Para peserta ini juga dipersiapkan untuk dapat berfungsi sebagai tenaga yang membantu Koperasi Unit Desa dalam rangka mengidentifikasi potensi usaha-usaha agribisnis komoditas unggulan, terutama yang sesuai dengan KUBA.
3.   Para peserta ini disiapkan secara khusus untuk mampu mendampingi KUBA, terutama dalam upaya mengembangkan usaha-usaha produktifnya.

B. Metode Pelatihan
Metode pelatihan ini pada hakekatnya merupakan proses belajar yang partisipatif dengan menggunakan metode belajar: Ceramah; Curah pendapat (diskusi); Tanya jawab; Diskusi kelas dan kelompok; Diskusi pleno; Penugasan perorangan; Penugasan kelompok; Bermain peran (Simulasi); Demonstrasi atau peragaan; Studi kasus. Penggunaan metode-metode di atas sifatnya luwes, disesuaikan dengan dinamika proses belajar yang terjadi di dalam kelas dan kelompok.

4.6.  MATERI DAN PROSES PELATIHAN

A.  Materi Pelatihan
Materi pelatihan dikelompokkan menjadi empat program, yaitu
(1).  Program 1. Program Pembekalan dan Pemantapan sikap mental, semangat dan wawa­san kebangsaan.
(2).  Program 2. Program Pembekalan Pengetahuan Umum seperti kebijakan dan mekanisme pembangunan masyarakat desa, permasalahan kemiskinan di Indonesia, kewira-usahaan, manajemen bisnis pedesaan, sosiologi pedesaan, dan lainnya.  Khusus mengenai program KUBA-LKU, topik-topik pokok bahasan meliputi: Pengenalan KUBA-LKU; Teknik pembinaan kelompok; Pendataan penduduk miskin; Pembentu­kan KUBA; Perencanaan kegiatan KUBA; Kegiatan usaha produktif; Pengelolaan dana bergulir/kredit ; Pencatatan dan pelaporan
(3). Program 3. Program Pembekalan Dasar Ketrampilan Kepanduan dan Pembinaan Jiwa Pioneering dan kemandirian,  menggunakan media alam terbuka.
(4). Program 4. Praktek karya lapangan di wilayah kerja KUD agribisnis.


B.  Proses Pelatihan
Mengingat peserta pelatihan adalah orang-orang yang telah dewasa maka proses dan pendekatan yang tepat adalah menggunakan azas yang parti­sipatif.  Kegiatan belajar yang berdasarkan pendekatan ini menempatkan peserta yang telah memiliki bekal pengetahuan, pengalaman, ketrampi­lan sebagai subyek , serta cenderung berorientasi pada kebutuhan-kebutuhan teknis dan non-teknis. Pengetahuan, pengalaman, dan ketrampilan yang telah dimiliki peserta meru­pakan potensi yang harus digali dan dikembangkan untuk dapat saling tukar pengalaman dan pengkayaan satu dengan yang lain.  Prinsip-prinsip dalam proses pelatihan ini adalah :
1.   Memperhatikan dan menghargai pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki oleh peserta.
2.   Memusatkan perhatian pada penemuan dan pemecahan permasalahan secara bersama.
3.   Mengutamakan keikutsertaan peserta secara aktif dan merata.
4.   Pelatih bertindak sebagai fasilitator yang turut melibatkan diri didalam proses belajar.
5.   Mengutamakan kegiatan peningkatan penghayatan dan pengalaman dari para peserta pelatihan.
6.   Dalam hal tertentu peserta dijadikan narasumber bagi pemecahan masalah.

4.7.  MEDIA BELAJAR

Alat bantu belajar dan sarana yang dapat digunakan antara lain ada­lah:
1.   Media belajar: Makalah, Transparan, Lembar bacaan, lembar tugas, Lembar kasus, Daftar isian, Poster, dan lainnya
2.   Sarana Belajar: Pengeras suara; OHP, slide projector, Papan tulis, Spidol, Kertas dinding, dan lainnya
3.  Perlengkapan pelatihan khusus di alam bebas dan terbuka.

4.8. PENYELENGGARAAN PELATIHAN

A.  Panitia Penyelenggara
Panitia penyelenggara ditetapkan dengan surat keputusan LPM Unibraw berkoordinasi dengan Instansi terkait di Jawa Timur.

B.  Tim Fasilitator
Tim fasilitator terdiri dari para pakar yang dipilih sesuai dengan bidang ilmu yang diperlukan, para pelatih dari Balai Latihan Koperasi, Instansi pemerintah terkait (Koperasi, Pertanian, Peternakan, Perkebunan, Perindag, Perindustrian dan Perbankan) dan unsur-unsur lain terkait.  Tim fasilitator ini dibantu oleh tenaga asisten yang berasal dari KUD-KUD mandiri.


4.9.  WAKTU DAN TEMPAT

A.  Tahap Pelatihan

A.1. Waktu pelatihan
Pelatihan ini dilaksanakan secara terjadwal. Secara keseluruhan memerlukan waktu 15 hari. Jadwal harian disusun sedemikian rupa dalam rangka untuk mengem bangkan sikap kedisiplinan, ketekunan, ketelitian, dan semangat kebersamaan.

A.2.  Tempat Pelatihan
Pelatihan diselenggarakan di tiga lokasi yang berbe­da. Pelaksanaan Program-1 dan Program-2 berlokasi di Malang; Program-3 di Pandaan, dan Program-4 di wilayah kerja KUD Agribisnis sekitar Pandaan dan Malang..  Pada setiap KUD ditempatkan satu kelompok  (10 orang)  peserta yang tinggal di lokasi selama tujuh hari.

B. Tahap Pembinaan dan Pemantauan
Tahapan pembinaan dan pemantauan ini berlangsung selama tiga tahun, setiap orang tenaga pengelola ditempatkan di desa-desa lokasi KUBA-LKU. 





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar